Kelas Wawasan: Mengupas Pendidikan Luar Biasa

Kelas Pengembangan Wawasan di YPAB Tanah Abang yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 April 2018,  diisi oleh Rully Anjar Arifianto, seorang juru bahasa isyarat (JBI),  dengan topik Pendidikan Luar Biasa. Kak Rully mengenalkan para peserta didik YPAB dengan dunia disabilitas dan jalur apa saja yang bisa kita ambil jika ingin berkontribusi pada isu ini, khususnya tentang bagaimana melanjutkan pendidikan tinggi pada  bidang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Selain itu, Kak Rully juga memaparkan hak-hak penyandang disabilitas yang sering diabaikan oleh masyarakat.

Kak Rully menjelaskan bahwa PLB adalah pendidikan bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Namun, PLB sebagai salah satu bidang atau jurusan di perguruan tinggi ternyata tidak cukup dikenal di kalangan masyarakat, sehingga kebanyakan orang hanya memilih bidang yang lebih umum dikenal saat hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Padahal dengan mengambil jurusan tersebut, seseorang akan mempunyai perspektif baru mengenai anak berkebutuhan khusus yang kerap tak dianggap padahal memiliki potensi yang besar. Selain itu, tidak kalah dengan bidang lain, melalui PLB kita pun bisa menjadi bagian penting dari perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

DSC_1225

Kak Rully berbagi informasi mengenai beberapa tipe dan penyebab disabilitas yang umum terjadi baik sejak lahir maupun penyebab lain. Kak Rully juga menjelaskan kesulitan yang sering dihadapi tiap tipe penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari khususnya Disabilitas Grahita, Tuli, Netra, dan Daksa. Menurut Kak Rully, kurangnya akses yang tersedia pada fasilitas umum merupakan kendala utama karena sebenarnya lingkungan lah yang membuat mereka disabilitas. “Jika mereka diberikan kemudahan, mereka pun akan melalukan segala aktivitasnya dengan mandiri” Kata Kak Rully.

Kelas yang diikuti oleh kurang lebih 50 peserta didik itu diakhiri dengan simulasi menulis dan membaca Braille (tulisan sentuh yang digunakan oleh penyandang disabilitas netra). Pada sesi ini kelas dibagi menjadi enam kelompok. Para peserta didik pun mencoba menghafal tiap-tiap huruf yang harus ditulis dan saling berkompetisi menyelesaikan kalimat yang diberikan Kak Rully. Kompetisi ini akhirnya dimenangkan oleh kelompok yang paling cepat dan paling benar.

DSC_1200

Pada kesempatan lain, Kak Rully yang merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta jurusan Pendidikan Luar biasa itu, mengaku tertarik pada bidang tersebut setelah melihat sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi swasta yang membuatnya terinspirasi dan ingin terjun langsung untuk bisa berkontrbusi pada dunia disabilitas. Awalnya ia sempat berpikir bahwa jurusan PLB hanya akan menjadi guru di Sekolah Luar Biasa, setelah menyelami lebih dalam, ternyata ada banyak sekali peluang yang tersedia, seperti Terapis, Wirausaha (terapi, bimbel, konsultan), JBI, Non-Government Organization (NGO), dan juga Guru Sekolah Inklusi.

Kak Rully mengaku sangat senang dengan antusiasme para peserta didik yang hadir, ini adalah kali pertamanya mengajar dalam durasi lama dengan kapasitas kelas yang lumayan besar. Ia berpesan kepada para peserta didik YPAB dan masyarakat umum bahwa “Jangan antipati dengan para penyandang disabilitas, coba kenali dan pahami dunia mereka. Selama ini kita hanya liat luarnya saja,” tuturnya. Dengan adanya kelas ini ia juga berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih ramah disabilitas.