Atasi Masalah Kepercayaan Diri Menjadi Topik Kelas Pengembangan Wawasan di YPAB

Yayasan Pemimpin Anak Bangsa membantu masyarakat yang putus sekolah karena kesulitan ekonomi untuk mendapatkan akses pendidikan di berbagai jenjang. Dengan latar belakang tersebut, dapat dipahami mereka pada umumnya memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah atau tidak sama dengan mereka yang mengenyam pendidikan dari institusi-institusi formal. Rasa percaya diri yang rendah inilah yang sering menghalangi mereka untuk maju.

Menyadari kondisi yang dimiliki oleh para peserta didik tersebut, bertempat di Rumah Didik Tanah Abang, Kelas Pengembangan Wawasan yang biasanya diadakan setiap bulannya kali ini memilih topik mengenai ‘Self Confidence’. Kelas yang disampaikan oleh salah satu tutor relawan Catherine Haryasyah dari Microsoft Indonesia pada tanggal 22 Agustus 2015 yang lalu ini, dimaksudkan untuk memberi pengetahuan kepada peserta didik bagaimana membangun kepercayaan diri. Sekitar 60 peserta didik yang saat ini sedang mengikuti Kelas Paket A hingga Paket C tampak antusias menyimak dengan baik materi yang disampaikan.

Didahului dengan tes kepercayaan diri, hasil tes menunjukkan dan membuktikan bahwa memang pada umumnya para peserta didik, yaitu sekitar 80%, tidak memiliki rasa percaya diri yang memadai. Catherine membahas apa yang dimaksud dengan ‘self confidence’ dan apa yang bukan, langkah-langkah membangun kepercayaan diri dengan prinsip seimbang (bukan over confidence dan bukan under confidence), dan disertai contoh-contoh yang sederhana dari kehidupan sehari-hari. Selain itu disampaikan juga contoh orang-orang besar yang pernah gagal lalu mencoba lagi dan berhasil, sebagai gambaran nyata hasil dari sikap tidak putus asa dan terus mencoba, yang merupakan bagian dari kepercayaan diri.

 

 

 

 

 

Kelas ini diharapkan dapat menginspirasi peserta didik dalam membangun kepercayaan diri mengejar ketertinggalan mereka dalam mendapatkan pendidikan. “Kepercayaan diri dibangun bukan dengan cara membandingkan ‘diri kita’ dengan ‘orang lain’, melainkan bagaimana membandingkan diri kita ‘saat ini’ dengan diri kita ‘sebelumnya’ serta dengan lebih menghargai pencapaian-pencapaian kecil yang didapat”.