Menginspirasi untuk Melakukan Perubahan di Desa, YPAB Bersinergi dengan IBEKA Menyelenggarakan Kelas “Pemberdayaan Energi Terbarukan di Indonesia”

Kondisi geografis menjadi salah satu faktor penyebab masalah penyediaan listrik di Indonesia. Indonesia memiliki banyak pulau-pulau, pegunungan, dan dataran tinggi yang menghasilkan banyak wilayah terpencil. Selain itu, wilayah Indonesia yang jauh lebih luas dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, menambah kerumitan untuk mewujudkan elektrifikasi listrik hingga 100 %. Saat ini rasio elektrifikasi listrik nasional masih cukup rendah, yaitu hanya mencapai 85.1%, bahkan di beberapa daerah masih di bawah 50%.

Pemaparan mengenai permasalahan kelistrikan nasional tersebut, peran listrik sebagai sumber kehidupan yang menjadi penggerak perekonomian suatu wilayah, dan sepak terjang dari salah satu institusi bisnis berbasis sosial dalam penanganan permasalahan tersebut melalui pengembangan energi terbarukan di daerah terpencil menjadi materi Kelas Pengembangan Wawasan yang diselenggarakan oleh YPAB bekerja sama dengan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) pada Sabtu, 12 September 2015 yang lalu. Tema yang diangkat adalah “Pemberdayaan Energi Terbarukan di Indonesia”. Bertempat di Rumah Belajar Tanah Abang, Jakarta, kelas ini dihadiri oleh peserta didik paket C dan para relawan serta tutor YPAB.

photo1

 

 

 

 

Dhygda dari IBEKA terlebih dahulu menuturkan mengenai definisi energi terbarukan, beberapa alternatif dari energi terbarukan di Indonesia, dan cara kerja pembangkit listrik tenaga mikro hidro dan angin. Selanjutnya dijelaskan bahwa organisasi yang berbadan hukum berupa yayasan dan dimotori oleh Tri Mumpuni sebagai Executive Director ini mengembangkan proyek-proyek listrik tenaga mikro hidro di berbagai daerah terpencil di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Tidak kalah menarik disampaikan bahwa pengembangan proyek listrik tenaga mikro tersebut memerlukan waktu yang cukup lama dalam upaya mewujudkan kemandirian masyarakat. Diperlukan rata-rata sekitar total 18 bulan untukcommunity engagement, yang mencakup sekitar 9 bulan masing-masing untuk sosialisasi dan pendampingan, sementara untuk penelitian dan pembangunan hanya sekitar 3 dan 6 bulan. Dengan penerapan teknologi yang tepat dan pendekatan sosiologi, output yang diharapkan adalah desa yang bisa mandiri antara lain dalam mengelola, mendapatkan revenue, dan membentuk koperasi.

Peserta didik terlihat antusias selama berlangsungnya kelas, terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan. Selain menerima pengetahuan, kelas ini ternyata menginspirasi peserta didik bahwa mereka bisa mempunyai harapan kembali ke desa untuk berkontribusi membuat perubahan meski sekecil apapun.

photo2